Perusahaan farmasi asal Jerman, Bayer, melalui PT Bayer Indonesiatelah menanamkan total investasi sekitar Rp 1,6 triliun untuk membangun dan mengembangkan pabriknya di Indonesia.  Salah satunya yaitu pabrik yang berlokasi di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Pabrik ini menjadi pusat produksi unggulan dari pabrik-pabrik milik Bayer yang ada di negara lain.

Senior Bayer Representative ASEAN, Ernst Coppens mengatakan, pabrik health care Cimanggis mulai beroperasi pada 1974. Melalui pabrik ini, Bayer tidak hanya melihat Indonesia sebagai pasar tapi juga lokasi strategis untuk menjadi pusat produksi beberapa merek global milik Bayer.

"Bayer telah menanam investasi sebesar 100 juta Euro atau setara Rp 1,6 triliun untuk membangun dan melengkapi pabrik ini dengan fasilitas modern sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas dunia," ujar dia di Pabrik Bayer Indonesia, Cimanggis, Depok, Rabu (27/3/2019).

Dia menuturkan, pabrik health care Cimanggis memiliki luas lahan 102 ribu meter persegi. Namun, baru 18 ribu meter persegi yang dibangun atau sekitar seperlimanya saja yang sudah dimanfaatkan untuk fasilitas produksi.  "Dengan demikian, masih terdapat potensi besar bagi pabrik Cimanggis untuk menambah fasilitas manufaktur agar dapat melayani perkembangan pasar global," kata dia.

Menurut Ernst, saat ini pabrik di Cimanggis tersebut menjadi satu-satunya pabrik di ASEAN dan Asia Pasifik dari 12 pabrik milik Bayer yang menjadi pusat produksi Bayer di dunia. Selain di Cimanggis, Bayer Indonesia juga mengoperasikan dua pabrik agro kimia di Surabaya dan Tangerang.

"Pabrik Bayer di Cimanggis merupakan satu-satunya pabrik di wilayah ASEAN dan yang terbesar dengan nilai ekspor yang signifikan se-Asia Pasifik. Ini merupakan pusat produksi unggulan dari 12 pabrik Bayer di seluruh Indonesia," tandas dia.

Menperin Lepas Ekspor ke-3.000 Produksi Bayer Indonesia

Sebelumnya, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto melepas kontainer ekspor ke-3.000 ‎PT Bayer Indonesia. Ekspor ini menjadi bukti industri farmasi Indonesia telah menembus pasar global dan bersaing dengan produk-roduk sejenis dari negara lain.

Dalam sambutannya, Airlangga mengatakan, industri farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional tumbuh sebesar 4,46 persen dan memberikan kontribusi industri tersebut terhadap PDB industri pengolahan non migas sebesar 2,78 persen.  "Ini terus meningkat selama 5 tahun terakhir," ujar dia di Pabrik Bayer Indonesia, Cimanggis, Depok, Rabu 27 Maret 2019. 

Saat ini, neraca ekspor-impor industri farmasi masih menunjukkan defisit walaupun ekspor pada 2018 sebesar USD 1.136 juta, meningkat dibandingkan 2017 yang sebesar USD 1.101 juta.  "Untuk itu, pemerintah sangat menghargai investasi PT Bayer Indonesia bagi pengembangan fasilitas produksi dalam negeri, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan daya saingnya di pasar health care internasional," kata dia.

Airlangga menuturkan, investasi yang telah dilakukan oleh PT Bayer Indonesia dalam bentuk fasilitas modern dengan teknologi canggih telah memposisikan Indonesia sebagai produsen produk perawatan kesehatan berkualitas dunia. Hal ini ditunjukkan dengan ekspor sekitar 80 persen produk Bayer ke 33 negara di seluruh dunia.  

"Selain itu, PT Bayer juga turut mengembangkan sumber daya manusia berkualitas kelas dunia melalui pelatihan vokasi mekatronik dengan siswa SMK. Program ini mengikuti standar pelatihan vokasi Jerman dan diawasi oleh Kamar Dagang dan Industri Jerman," tandas dia.

 

 

 

Source

0 Commentaire(s)